Post on 2013-04-29 | dibaca 557 kali

PENDAHULUAN
Di dalam Al Qur’an terdapat sekitar 27 ayat yang mensejajarkan shalat dengan kewajiban zakat, dan hanya satu kali disebutkan dalam konteks yang sama, akan tetapi dalam ayat berbeda, yaitu surat Al-Mukminun ayat 2 dengan ayat 4 (Yusuf Qardhawi, Fiqh Zakat, 1973). Al Qur’an menyatakan bahwa kesediaan berzakat di pandang sebagai :
- Indikator utama kedudukan seorang kepada ajaran Islam (QS. 9:5 dan QS. 9:11), sekaligus sebagai ciri orang yang mendapatkan kebahagiaan (QS.23:4), akan mendapatkan rahmat dan pertolonganNya.
Zakat adalah ibadah maaliyah ijtima'iyah yang memiliki posisi yang sangat penting, strategis dan menentukan (Yusuf Qordhowi, Al Ibadah, 1993) baik dari sisi ajaran Islam maupun dari sisi pembangunan ummat. Sebagai suatu ibadah pokok zakat termasuk salah satu rukun Islam yang lima, seperti diungkapkan hadits nabi (Mus'id As-Sa'dani Al Arba'in An-Nawawiyyah, 1994) sehingga keberadaannya dianggap makhan min ad-dien bi adl-dlarurah (diketahui secara otomatis adanya dan merupakan bagian mutlak dari keislaman)-(Ali Yafie, Fiqh Sosial, 1994).


DASAR ZAKAT DALAM AL QUR'AN
QS.9-At Taubah:5,11 (Indikator utama kedudukan seseorang kepada ajaran Islam)
QS.23-Al Mukminum:4 (Ciri orang yang mendapatkan kebahagiaan)
QS.9-At Taubah: 71 dan QS.22-Al Haj: 40-41 (Akan mendapatkan rahmat dan pertolonganNya
Kesadaran berzakat dipandang sebagai orang yang peduli hak fakir miskin)
QS.9-At Taubah:60 (Dan para mustahik lainnya (orang yang berhak mendapatkan zakat) sekaligus dipandang sebagai orang    yang membersihkan, menyuburkan)
QS.9-At Taubah:103 dan QS.30-Ar Rum:39 (Mengembangkan hartanya serta mensucikan jiwanya)

DASAR INFAQ dan SHODAQOH
QS.8-Al Anfal:3-4 (Ciri utama orang yang benar keimanannya)
QS.2-Al Baqoroh:3 dan QS. 9-At Taubah:134 (Ciri utama orang yang bertaqwa)
QS.35-Al Fatir:29 (Ciri mu'min yang mengharapkan balasan yang abadi dari Allah SWT)
Qs 3-Ali Imran: 134 (Dianjurkan dalam segala keadaan, sesuai kemampuan)

ENGGAN MENGELUARKAN ZAKAT???
Al Qur'an dan hadits Nabi memberikan peringatan keras kepada orang yang enggan mengeluarkan zakat
Berhak untuk diperangi (HR. Imam Bukhari dan Muslim dari sanadnya Ibnu Umar)
Harta bendanya akan hancur dirusak (HR. Imam Bazzar dan Baihaqi)
Dan apabila keengganan itu memasal, maka Allah SWT akan menurunkan ahzab-Nya dalam bentuk kemarau yang panjang (HR. Imam Thabrani)
•Sedangkan di akhirat nanti, harta benda yang tidak dikeluarkan zakatnya
•akan   menjadi azab bagi pemiliknya (QS.9-At Taubah:34-35

“Sesungguhnya Allah mewajibkan atas orang-orang kaya muslimin untuk mengeluarkan harta mereka seukuran yang dapat memberikan keluasan hidup bagi orang-orang miskin. Kemelaratan yang dialami oleh orang-orang miskin, bila mereka lapar atau tidak berpakaian, adalah akibat perbuatan orang-orang kaya juga. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah akan meminta pertanggung jawaban orang-orang kaya itu dengan pengadilan yang berat dan akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih.” (HR Thabrani)


KRITERIA SYARIAH tentang FIQIH WAJIB ZAKAT


Zakat bukanlah semata-mata charity atau kedermawanan sosial,  bukan pula sekedar upaya menggugurkan kewajiban agama semata. Zakat adalah sebuah investasi yang bersifat ukhrawi(akherat) dan duniawi sekaligus.
Bersifat ukhrawi karena zakat selain akan menambah kualitas keimanan dan ketaqwaan, juga akan menambah harta kekayaan sang muzakki. Selain itu, secara duniawi, zakat dapat mendorong pembukaan lapangan pekerjaan baru sehingga akan meningkatkan pendapatan dan daya beli kaum dhuafa. Peningkatan tersebut pada akhirnya akan mendorong tumbuhnya perekonomian masyarakat.
Dr Qorodhowi membagi katagori zakat kedalam sembilan katagori; zakat binatang ternak, zakat emas dan perak yang juga meliputi uang, zakat kekayaan dagang, zakat hasil pertanian meliputi tanah pertaanian, zakat madu dan produksi hewani, zakat barang tambang dan hasil laut, zakat investasi pabrik, gedung dan lain-lain, zakat pencarian, jasa dan profesi dan zakat saham serta obligasi.
Yang perlu dicatat bahwa ijtihad-ijtihad kotemporer mengenai zakat yang muncul sekarang ini pada dasarnya tetap berpedoman pada karya-karya klasik dan pada nash-nash yang ada bukan merupakan ijtihad yang tanpa dasar.

ZAKAT PROFESI & ZAKAT PERUSAHAAN
Adapun fatwa dari iitjihad ulama modern saat ini telah beranggapan bahwa upaya menemukan hukum pasti zakat harta jenis ini adalah sangat mendesak, dikarenakan inilah jenis penghasilan yang paling banyak dijumpai saat ini.
Bila tidak ini berarti kita telah melepaskan kebanyakan orang dari kewajiban zakat yang telah dinyatakan jelas kewajibannya secara umum dalam Al Quran dan Sunnah.
Dasar Hukum, Firman Allah pada :
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu, kamu membersihkan dan mensucikan mereka…” (Q.S. At-Taubah:103)
“dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak dapat bagian” (QS. Adz Dzariyat:19)
“Wahai orang-orang yang beriman, infaqkanlah (zakat) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik. “
(QS Al Baqarah 267)

Hadist Nabi SAW:
Bila zakat bercampur dengan harta lainnya maka ia akan merusak harta itu. (HR. AL Bazar dan Baehaqi). Barangkali bentuk penghasilan yang paling menyolok dewasa ini adalah pekerjaan sebagai profesi, baik sebagai karyawan/pegawai (negeri & swasta), atau profesi modern seperti dokter, advokat, penjahit, seniman, dll. Jenis pekerjaan ini mendatangkan penghasilan baik berupa gaji, upah ataupun honorarium.
Zakat atas penghasilan atau zakat profesi adalah istilah yang muncul dewasa ini. Adapun istilah Ulama salaf bagi zakat atas penghasilan atau profesi biasanya di sebut dengan “Almalul mustafad”: yaitu yang dihasilkan dari profesi non zakat yang dijalani, seperti gaji pegawai negeri/swasta, konsultan, dokter, dan lain-lain, atau rezeki yang di hasilkan secara tidak terduga seperti undian, kuis berhadiah (yang tidak mengandung unsur judi), dll.
D.R.Yusuf Qorodlowi berpendapat wajib di keluarkan zakatnya atas profesi yang dijalani, hal demikian merujuk pada salah satu riwayat pendapat dari Imam Ahmad bin Hanbal (Madzhab Hanbali) dan beberapa riwayat yang menjelaskan hal tersebut. Diantaranya adalah riwayat dari Ibnu Mas’ud, Mu’awiyyah, Awza’i dan Umar bin Abdul Aziz yang menjelaskan bahwa beliau mengambil zakat dari ‘athoyat (gaji rutin), jawaiz (hadiah) dan almadholim (barang ghosob/curian yang di kembalikan).
Abu Ubaid meriwayatkan, “Adalah Umar bin Abdul Aziz, memberi upah pada pekerjanya dan mengambil zakatnya, dan apabila mengembalikan almadholim (barang ghosob/curiang yang di kembalikan) diambil zakatnya, dan beliau juga mengambil zakat dari ‘athoyat (gaji rutin) yang di berikan kepada yang menerimanya.
Atas dalil-dalil tersebut di atas dengan merujuk pada Madzhab Hanbali, beberapa ulama kontemporer berpendapat adanya zakat atas upah atau hadiah yang di peroleh seseorang.

FIQIH ZAKAT PENGHASILAN & PROFESI
Dengan menggunakan kaidah ushul fikih, didapat kategori “harta penghasilan”, yaitu kekayaan yang diperoleh seseorang Muslim melalui bentuk usaha baru yang sesuai dengan syariat agama. Harta penghasilan itu sendiri dapat dibedakan menjadi :
(1) Penghasilan yang berkembang dari kekayaan lain, misalnya uang hasil menjual poduksi pertanian yang sudah dikeluarkan zakatnya 10% atau 5% yang tentunya uang hasil penjualan tersebut tidak perlu dizakatkan pada tahun yang sama karena kekayaan asalnya (produksi pertanian tsb) sudah dizakatkan. Ini untuk mencegah terjadinya apa yang disebut double zakat.
(2) Penghasilan yang berasal karena penyebab bebas, seperti gaji, upah, honor, investasi modal dll (Insya Allah, pembahasan kita akan berkisar pada jenis harta penghasilan yang kedua ini). Karena harta yang diterima ini belum pernah sekalipun dizakatkan, dan mugnkin tidak akan pernah sama sekali bila harus menunggu setahun dulu.
Kelompok terakhir ini berpendapat, bahwa zakat penghasilan ini wajib dikeluarkan zakatnya langsung ketika diterima tanpa menunggu waktu satu tahun. Diantara kelompok terakhir ini adalah: Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud, Muawiyyah, dll,  Shadiq, Baqir, Nashir, Daud, dan diriwayatkan juga Umar bin Abdul Aziz, Hasan, Zuhri, serta Auza'i.

NISHAB, HAUL & BESARNYA ZAKAT
Setelah menetapkan harta penghasilan dari pencarian dan profesi adalah wajib zakat, yusuf Al-Qaradhawy menjelaskan pula berapa besar nisab buat jenis harta ini, yaitu 85 GRAM EMAS seperti hal besarnya nisab uang (yang telah kita kaji sebelumnya). Demikian pula dengan besarnya zakat adalah 2.5% sesuai dengan keumumman nash yang mewajibkan zakat uang sebesar itu.
Adapun waktu penyatuan dari penghasilan itu yang dimungkinkan dan dibenarkan oleh syariat itu adalah satu tahun. Dimana zakat dibayarkan setahun sekali. Fakta juga menunjukkan bahwa pemerintah mengatur gaji pegawainya berdasarkan ukuran tahun, meskipun dibayarkan per bulan karena kebutuhan pegawai yang mendesak.
Jangan lupa bahwa yang diukur nisabnya adalah penghasilan bersih, yaitu penghasilan yang telah dikurangi dengan kebutuhan biaya hidup terendah atau kebutuhan pokok seseorang berikut tanggungannya (lihat syarat harta yang wajib zakat), dan juga setelah dikurangi untuk pembayaran hutang (ini hutang bukan karena kredit barang mewah, tapi hutang untuk memenuhi kebutuhan pokok/primer seperti hutang nunggak bayaran sekolah anak, motor untuk kerja, dll).
Bila penghasilan bersih itu dikumpulkan dalam setahun atau kurang dalam setahun dan telah mencapai nisab, maka wajib zakat dikeluarkan 2.5% nya. Bila seseorang telah mengeluarkan zakatnya langsung ketika menerima penghasilan tsb (karena yakin dalam waktu setahun penghasilan bersihnya akan lebih dari senisab), maka tidak wajib lagi bagi dia mengeluarkannya di akhir tahun (karena akan berakibat double zakat).
Selanjutnya orang tsb harus membayar zakat dari penghasilan tsb pada tahun kedua dalam bentuk kekayaan yang berbeda-beda.
-Bila kelebihan itu disimpan dalam bentuk uang, emas dan perak, maka kaji kita akan kembali pada pembahasan mengenai zakat uang, emas dan perak.
-Bila kelebihan itu diinvestasikan (pabrik, gedung, rumah yang disewakan, kendaraan yang disewakan, dll), kita perlu membahas zakat investasi.
-Bila harta tsb selanjutnya diputar dalam perdagangan maka zakatnya dibahas dalam zakat perdagangan.
-Bila dibelikan saham atau obligasi, maka zakatnya dibahas dalam zakat saham dan obligasi.
-Bila dibelanjakan untuk sesuatu yang dipergunakan sehari-hari atau yang tidak mempunyai potensi berkembang, maka tidak ada kewajiban zakat lagi pada tempo yang kedua ini.

NISHOB & KADAR ZAKAT PENGHASILAN / PROFESI


BEBERAPA PENDAPAT TENTANG NISHOB
Menganalogikan (men-qiyas-kan) secara mutlak dengan hasil pertanian, baik nishob maupun kadar zakatnya. Dengan demikian nishobnya adalah setara dengan nishob hasil pertanian yaitu 652,5 kg beras (hasil konversi D.R.Wahbah Azzuhaili), kadar yang harus di keluarkan 5% dan harus dikeluarkan setiap menerima.

Menganalogikan nishobnya dengan zakat hasil pertanian, sedangkan kadar zakatnya dianalogkan dengan emas yakni 2,5%. Hal tersebut berdasarkan atas qiyas atas kemiripan (qiyas syabah) terhadap karakteristik harta zakat yang telah ada, yakni :
Model memperoleh harta tersebut mirip dengan panen hasil pertanian. Dengan demikian maka dapat di qiyaskan dengan zakat pertanian dalam hal nishobnya

Model bentuk harta yang diterima sebagai penghasilan adalah berupa mata uang. Oleh sebab itu, bentuk harta ini dapat diqiyaskan dengan zakat emas dan perak (naqd) dalam hal kadar zakat yang harus di keluarkan yaitu 2,5%.

Adapun pola penghitungan nishobnya adalah dengan mengakumulasikan pendapatan perbulan pada akhir tahun, atau di tunaikan setiap menerima, apabila telah mencapai nishob.

Mengkategorikan dalam zakat emas atau perak dengan mengacu pada pendapat yang menyamakan mata uang masa kini dengan emas atau perak. Dengan demikian nishobnya adalah setara dengan nishob emas atau perak sebagaimana 2 penjelasan terdahulu, dan kadar yang harus dikeluarkan adalah 2,5%.
Sedangkan waktu penunaian zakatnya adalah segera setelah menerima (tidak menuggu haul). Jadi, Zakat Profesi adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan profesi bila telah mencapai nishab.

PERHITUNGAN SEDERHANA PENGHASILAN POKOK
Sehingga perhitungan sederhana dari penghasilan pokok berdasar ketentuan sbb :
1. Mencapai nishab setara 520 kg (Qiyas Zakat Pertanian)
atau 85 gram emas (Qiyas Zakat perdagangan)
2. Besar zakat 2,5 %
3. Kaidah menghitung zakat profesi
a. Menghitung dari pendapatan kasar (brutto)
Besar Zakat Profesi = Pendapatan total x 2,5 %.

   b. Menghitung dari pendapatan bersih (netto)
Besar Zakat Profesi =  
(Pendapatan total-Pengeluaran/bulan x 2.5%)                                          

Pengeluaran per bulan adalah pengeluaran kebutuhan primer (sandang, pangan, papan) & hutang jatuh tempo (hutang pokok untuk kebutuhan hidup, bukan hutang barang mewah seperti mobil,HP,pemata dsb).

Terdapat perselisihan pendapat di antara para ulama, apakah zakat dihitung dan diambil dari penghasilan brutto (kotor) atau netto (bersih). Namun yang lebih afdhol adalah menetapkan penghitungan zakat, salah satunya zakat profesi, dari netto (bersih). Tapi netto yang kami maksud adalah penghasilan bersih seseorang setelah dikurangi pengeluaran kebutuhan pokok (primer) dan hutang jatuh tempo, dan bukan dikurangi pengeluarannya secara riil. Karena tidak jarang pengeluaran bulanan riil 

CARA MENGHITUNG ZAKAT

Cara Menghitung Zakat Profesi
Menggunakan Nishab Beras
Nisab sebesar 5 wasaq / 652,8 kg gabah setara 520 kg beras (harga beras sekarang). Besar zakat profesi 2,5 %.

Besar zakat yang harus dibayarkan =
(Pendapatan - Pengeluaran kebutuhan primer/bl) X 2,5%

Contoh Perhitungan :
Jika Bang Jalidu punya gaji 6 juta/bl dan penghasilan tambahan dari menjadi dosen 4 juta/bulan. Bang Jalidu membayar cicilan kredit rumah sebesar 5 juta/bl.  

Penghasilan bersih = Total Penghasilan - Hutang
= (6jt+4jt) - 5 jt = 5 juta
.
Harga beras layak konsumsi yaitu Rp.8000/Kg,
Nisab zakatnya adalah: 520kgXRp 8000=Rp. 4.160.000,-.
Karena Bang Jalidu penghasilan bersihnya 5 juta dan ada di atas nisab.
.
Maka Bang Jalidu harus bayar zakat profesi sebesar  
= Rp. 5 juta x 2,5% = Rp. 125.000,- di bulan itu.
Menggunakan Nishab Emas
Nisab sebesar 85 Gram Emas (selama 1 Tahun), Besar zakat profesi yaitu 2,5 % setelah dikurang kebutuhan pokok/primer dan hutang jatuh tempo.

Jika, harga emas 24 karat Rp. 500.000/gr,
Maka nishab emas 1 tahun adalah=: 85 x 500.000,- =Rp 42.500.000,-
Nishab emasnper bulan adalah =Rp 42.500.000 : 12 = Rp 3.541.666,-

Contoh Perhitungan :
Jika Mbak Wulan punya gaji Rp 5jt/bln dan penghasilan tambahan jaga counter HP Rp 1jt/bl. Hutang cicilan kredit motor dan kebutuhan pokok sebesar 2 jt/bl

Penghasilan bersih
= Total Penghasilan-Hutang-Kebutuhan Pokok
= (5jt+1jt) - 2jt = Rp 4 juta
Karena Mbak Wulan penghasilan bersihnya 4 juta dan ada di atas nisab

Maka Mbak Wulan harus bayar zakat profesi sebesar
= Rp. 4 juta x 2,5% = Rp. 100.000,- di bulan itu.

Karena gaji yang diterima bentuknya UANG, maka di’qiyas’kan dengan nishab emas, dan karena
diterimanya setiap selesai waktu kerja tertentu, maka ‘haulnya’ diqiyaskan dengan haul dari
zakat pertanian. JADI: dibayarkan setiap bulan (haul) saat gajian dengan nishab 2,5 %
Part 5
Cara Menghitung Zakat Perusahaan:
Zakat perusahaan pada umumnya dianalogikan pada zakat perdagangan, hal tersebut sesuai dengan pendapat Muktamar Zakat Internasional, dan berdasarkan pada pendapat para ulama, diantaranya adalah Abu Ishaq Asy Syatibi.
Begitu juga dengan perinsip penghitungan zakatnya yaitu mengacu pada prinsip penghitungan zakat perdagangan atau perniagaan, yaitu berdasarkan pada riwayat Maimun bin Muhran yang diriwayatkan oleh Abu Ubaid dalam kitabnya Al-Amwal: “Apabila telah sampai waktu penunaian zakat (berlalu haul) maka lihatlah uang yang ada padamu atau persediaan barang dagangan, dan nilailah uang dan piutan yang ada pada orang lain. Hitunglah, kemudian hutangnya pada orang kemudian zakatilah sisanya.   Maka mayoritas ulama berpendapat bahwa pola perhitungan zakat perusahaan sekarang ini, adalah di dasarkan pada neraca (balance sheet), yaitu : aktiva lancar dikurangi kewajiban lancar (metode asset netto). Metode ini biasa disebut oleh ulama dengan metode syari'ah.

Ketentuan dan Syarat Zakat Perusahaan
- Kepemilikan dikuasai oleh muslim/muslimin
- Bidang Usaha harus halal.  
- Aset Perusahaan dapat dinilai.
- Aset Perusahaan dapat berkembang.
- Minimal kekayaan perusahaan setara  85 gram emas
- Dapat dibayar dengan barang atau uang
- Berlaku untuk perdagangan secara individu/badan usaha
- Telah mencapai Haul (1 thn), nishab min. 85 Gram emas
- Besar Zakat 2,5 %

CARA MENGHITUNG ZAKAT USAHA/DAGANG:

Modal yang diputar +Keuntungan +Piutang yang dapat (dikurangi) Hutang +Kerugian =X 2.5%

Contoh :
Sebuah perusahaan meubel pada tutup buku per Januari tahun 2012 dengan keadaan sbb :
* Sofa atau Mebel belum terjual 5 set     Rp  25.000.000
* Uang tunai yang dimiliki/Laba               Rp  30.000.000
* Piutang          Rp  10.000.000
Jumlah            Rp  82.000.000
*Utang & Pajak                  Rp  22.000.000
Saldo          Rp  50.000.000

Besar zakat = 2,5 % x Rp 50.000.000,- = Rp 1.250.000

Pada harta perniagaan, modal investasi yang berupa tanah dan bangunan atau lemari, etalase pada toko, dll, tidak termasuk harta yang wajib dizakati sebab termasuk kedalam kategori barang tetap (tidak berkembang).

Untuk bidang JASA, zakat usaha bisa dihitung dengan:
1. Seluruh harta kekayaan X 2.5 % ,atau
2. Hanya hasil bersih 1 thn X 10% (qiyas Zakat Pertanian)

Informasi Zakat,Infaq, SHodaqoh
Ph. [0770] 611901 ,  Fx. [0770] 611902

Get the Flash Player to hear this stream.